Akhirnya saya bisa posting lagi...Sebenarnya artikel ini adalah hasil kiriman email dari kakak saya yang dikirim sebagai bahan perenungan di hari ulang Tahun saya yang jatuhnya hari ini. Isinya seperti ini:
Hidup kita diibaratkan sebuah perahu, yang terbuat dari kayu terbaik, dilengkapi dengan alat-alat komunikasi yang lengkap, layar yang gagah dan dengan kompas penunjuk arah. Nah, demikian juga diri kita diciptakan dengan sangat baik oleh Allah, dilengkapi dengan bakat serta kemampuan yang luar biasa oleh Allah dan diberi hati nurani dan akal budi serta kebebasan untuk menjalani perahu kehidupan kita secara baik dan benar. Kesejatian hidup kita adalah berlayar mengarungi samudra, menembus badai, menghalau gelombang dan menemukan pantai harapan kebahagiaan kita dan keselamatan hidup abadi.
Namun sehebat apapun perahu, yang dbuat dari kayu yang bermutu tinggi, dilengkapi layar yang bagus dan peralatan yang canggih, tidak ada gunanya bila hanya di tambat di dermaga. Artinya, kita sudah diberi akal budi/otak, hati nurani, kemampuan, bakat yang khas oleh Tuhan bagi setiap orang, tapi itu tidak pernah dikembangkan, diberdayakan, malas untuk melakukan sesuatu, dan tidak menggunakannya dengan baik untuk kebahagaiaan diri dan sesama, maka kita seperti perahu yang ditambat, tidak bisa berkembang, jalan di tempat. Dermaga adalah tempat kita memulai hidup kita, dan bisa juga diartikan sebagai masa lalu kita. Tali penambat itu adalah kemalasan, ketakutan, dan penyesalan kita, kecemasan-kecemasan, kekecewaan-kekecewaan, luka-luka batin yang belum disembuhkan, yang sering menghambat kita untuk memulai melakukan sesuatu dan berjuang untuk keluar dari masa lalu kita.
Saudaraku, jangan buang waktu dan energi untuk selalu memikirkan masa lalu kita, kekuatiran hidup kita. Jangan menyia-nyiakan segala kemampuan, kesempatan yang telah dianugerahkan oleh Tuhan. Lepaskan tali kemalasan, lepaskan ikatan kekuatiran dan ketakutan yang membelenggu, lepaskan segala pikiran-pikiran yang menghambat kita untuk maju. Jangan biarkan diri kita tertambat dalam kecemasan, kekuatiran dan penyesalan masa lalu kita. Berlayarlah, lakukan sesuatu yang berguna bagi hidup kita dan keluarga kita, serta apa yang kita impikan dalam hidup ini. Aktifkanlah segala kemampuan dan bakat dalam diri kita, gunakanlah segala potensi diri dan bantuan orang-orang di sekitar kita dan ciptakanlah segala yang baik dalam hidup kita demi kebahagiaan kita dan sesama.
Ingat bahwa, yang memisahkan perahu dan pantai impian kita, adalah angin badai, gelombang dan batu karang. Yang memisahkan kita dengan kebahagiaan dan keselamatan adalah tantangan, cobaan/godaan yang kita hadapi dalam hidup ini, masalah-masalah yang selalu menggerogoti pikiran kita, tawaran-tawaran duniawi yang bisa memisahkan kita dari Sang Tujuan hidup kita. Sebenarnya, di sinilah kemampuan, martabat/harga diri dan kesejatian hidup kita diuji oleh Tuhan. Hakekat perahu adalah terus berlayar menembus rintangan mencapai pulau yang dituju. Dan hakekat hidup kita adalah berkarya, dan melakukan kebaikan agar kita bisa menemukan kebahagiaan. Jangan lupa sertakan Tuhan selalu dalam pelayaran hidup kita, karena bersama-Nya, dan melalui-Nya, kita akan mendapat pertolongan, diarahkan pada yang tujuan yag benar, serta dibawa kepada jalan kebahagiaan dan keselamatan. Tuhan mencintai kita dan mau agar kita mengembangkan diri kita secara baik demi kehabagiaan hidup kita dan sesama.
Cintailah dan hargailah hidup .!!






